Bab I . LISTRIK STATIS
Pernahkah kamu
menyentuh layar TV atau monitor komputer yang nyala?
Kamu mungkin akan merasakan sengatan kecil
pada jari tanganmu. Apa yang menyebabkan kamu merasakan sengatan tersebut?
Penyebab sengatan
tersebut sebetulnya sama dengan penyebab terjadinya petir, yaitu listrik
statis.
Apakah listrik
statis itu? Setelah belajar bab ini, kamu pasti dapat menggambarkan muatan
listrik untuk memahami gejala-gejala listrik statis.
Soal Prasyarat
☺ Sebutkan
kandungan dari inti atom!
☺ Disebut apakah
bagian atom yang bermuatan listrik negatif?
☺ Disebut apakah
bagian atom yang bermuatan listrik positif?
☺ Bagaimana
interaksi antara proton dengan elektron?
A. MUATAN LISTRIK
Apakah
yang kamu ketahui tentang muatan listrik? Apakah muatan listrik dibentuk dari
listrik statis? Apa betul listrik itu bermuatan? Bagaimana cara mengetahui
bahwa listrik bermuatan? Coba kamu lakukan kegiatan berikut.
Kegiatan 1
·
Tujuan : Membuktikan Muatan Listrik
·
Alat dan bahan
- kertas tisu
- plastik transparansi
- gunting
·
Cara kerja
1. Buat potongan-potongan kecil kertas tisu.
2. Gosok-gosokkan plastik transparansi atau
plastik sampul buku dengan kain (misalnya pada kain celana/rokmu).
3. Dekatkan plastik tersebut pada potongan
kertas-kertas itu. Gejala apakah yang kamu amati? Catat hasil pengamatanmu.
4. Ganti potongan-potongan kertas tisu
tersebut denganbenda-benda kecil lainnya, kemudian ulangi kegiatan di atas.
5. Ulangi lagi kegiatan di atas dengan
benda-benda lain yang digosok sebagai pengganti plastik.
·
Analisis dan diskusi
1. Bandingkan hasil pengamatanmu terhadap
perilaku kertas atau benda-benda kecil lainnya pada berbagai kegiatan yang
telah kamu lakukan.
2. Apakah plastik transparansi bermuatan
listrik?
3. Apakah potongan kertas tisu bermuatan
listrik?
4. Buat sebuah uraian yang menurut kamu dapat
menjelaskan kejadian-kejadian seperti yang telah kamu amati tersebut.
Pada
Kegiatan 1, kamu mengamati potongan-potongan kertas tisu yang mula-mula diam di
atas meja kemudian meloncat dan akhirnya menempel pada plastik yang telah
digosok. Gejala ini dapat pula kamu amati jika kamu menggosok- gosokkan sisir
pada rambut kering, ternyata sisir tersebut dapat menarik potongan-potongan
kertas. Gejala serupa terjadi pada saat kamu menyetrika baju dari kain nilon,
ternyata baju-baju tersebut menjadi lengket satu dengan lain. Pada berbagai
peristiwa tersebut kamu mengamati bahwa benda-benda tersebut menjadi “bermuatan
listrik”. Seperti yang telah kamu pelajari tentang teori atom, setiap benda
terdiri atas atom-atom.
Model
atom yang sekarang dikenal adalah model atom hasil penyelidikan dan teori-teori
yang dikemukakan oleh E. Ruther ford (1871-1937), Niels Bohr (1885-1962), dan
ahli fisika lain dari berbagai negara. Sebuah atom terdiri atas inti atom dan
elektron. Inti atom terdiri atas satu atau lebih proton dan neutron, tergantung
pada jenis atomnya. Proton bermuatan positif, sedangkan neutron tidak
bermuatan. Elektron bermuatan negatif mengelilingi inti atom. Suatu atom
dikatakan netral jika jumlah muatan positif (jumlah proton) sama dengan jumlah
muatan negatif (jumlah elektron). Atom akan bermuatan negatif jika atom
tersebut mendapatkan kelebihan elektron. Atom akan bermuatan positif jika atom
tersebut kekurangan elektron. Atom Helium memiliki inti yang terdiri atas 2
proton dan 2 neutron serta dikeliling 2 elektron. Atom bermuatan negatif jika
atom tersebut mendapatkan tambahan elektron.
Atom
Hidrogen yang netral terdiri atas 1 elektron, namun atom tersebut mendapatkan
tambahan 1 elektron, sehingga bermuatan negatif. Atom bermuatan positif jika
atom tersebut kekurangan elektron. Atom Litium yang netral memiliki 3 elektron,
namun atom tersebut kehilangan 1 elektron sehingga bermuatan positif. Sekarang
bayangkan plastik transparansi yang kamu gunakan pada Kegiatan 1. Mula-mula
plastik tersebut bersifat netral. Pada saat plastik tersebut digosok dengan
kain, sebagian elektron di kain berpindah menuju plastik. Plastik tersebut
sekarang tidak lagi netral, namun bermuatan negatif, dan dapat menarik
potongan-potongan kertas. Apa yang terjadi pada kain? Sebenarnya kain tersebut
tidak lagi netral, namun bermuatan positif. Mengapa? Hal tersebut terjadi
karena sebagian elektron-elektron pada kain berpindah menuju plastik. Melalui
Kegiatan 1 tersebut, ternyata kamu dapat menghasilkan kumpulan muatan listrik
pada plastik, dengan cara menggosok. Kumpulan muatan listrik pada suatu benda
disebut listrik statis.
1. Interaksi antara benda-benda
bermuatan listrik
Berdasarkan teori atom, kamu mendapatkan pemahaman bahwa
muatan listrik tidak hanya satu jenis, melainkan dua jenis, yaitu muatan
positif dan muatan negatif. Lakukan Kegiatan 2 untuk mempelajari
interaksi benda-benda bermuatan listrik sejenis dan yang tak sejenis.
Kegiatan 2
Tujuan : Mempelajari Interaksi
Benda-benda Bermuatan Listrik
Alat dan bahan
- penggaris plastik - kain sutera
- batang kaca -
statif
- kain wool -
benang
Cara kerja
1. Ikatkan sebatang penggaris plastik pada
statif. Gosokgosokkan satu ujung penggaris tersebut dan satu ujung penggaris
plastik kedua dengan kain wool.
2. Dekatkan penggaris plastik kedua ke
penggaris plastic yang digantung. Amati perilaku kedua penggaris tersebut.
Catat hasil pengamatanmu.
3. Dengan cara yang sama, lakukan untuk batang
kaca yang digosok dengan kain sutera.
4. Sekarang, gosok satu ujung penggaris plastik yang digantung
dengan kain wool dan batang kaca dengan kain sutera. Dekatkan batang kaca pada
penggaris tersebut. Amati perilaku kedua benda tersebut, catat hasil
pengamatanmu.
Analisis dan diskusi
1. Apakah penggaris bermuatan listrik setelah
digosokkan pada kain wool? Jelaskan.
2. Apakah batang kaca bermuatan listrik
setelah digosokkan pada kain sutera? Jelaskan.
3. Apa yang terjadi jika penggaris setelah
digosokkan pada kain sutera? Jelaskan.
4. Buat kesimpulan dari hasil kegiatanmu.
Berdasarkan
Kegiatan 2, kamu dapat mengamati bahwa jika dua penggaris plastik yang telah
digosok dengan kain wool saling didekatkan, ternyata penggaris plastik tersebut
saling tolak-menolak. Gejala serupa dapat kamu amati, jika dua batang kaca yang
telah digosok dengan kain sutera didekatkan, ternyata juga saling
tolak-menolak. Kamu dapat dengan mudah menyatakan, karena kedua penggaris
plastik tersebut digosok dengan kain yang serupa, tentu saja muatan yang
terdapat pada penggaris plastik tersebut sejenis. Demikian juga halnya dengan
kedua batang kaca, pastilah memiliki muatan sejenis karena digosok dengan benda
yang serupa. Hasil pengamatanmu ternyata menunjukkan bahwa benda-benda yang
bermuatan listrik sejenis akan tolak-menolak, atau dapat disimpulkan lebih
lanjut muatan listrik sejenis tolak-menolak.
(a) Muatan sejenis tolak-menolak, (b) muatan
tak sejenis akan tarik-menarik.
Bagaimana
hasil ini jika dikaitkan dengan keberadaan atom-atom penyusun penggaris plastik
dan batang kaca? Ketika penggaris plastik tersebut digosok dengan kain wool,
elektronelektron dari kain wool berpindah ke penggaris plastik, sehingga penggaris
plastik tersebut bermuatan listrik negatif. Sebaliknya, ketika batang kaca
digosok dengan kain sutera, elektron-elektron pada batang kaca tersebut berpindah
ke kain sutera, sehingga batang kaca bermuatan positif. Akibatnya, antara
penggaris plastik dengan batang kaca terjadi tarik-menarik.
2. Konduktor dan isolator
Bayangkan,
kita memiliki dua buah bola logam. Salah satu bola dimuati, sedangkan bola yang
lain netral. Selanjutnya kita tempatkan paku besi, sehingga paku menyentuh
kedua bola itu. Ternyata kita mendapatkan, bola kedua dengan cepat menjadi
bermuatan. Hal ini disebabkan sebagian muatan listrik pada bola pertama
berpindah menuju bola kedua melalui paku besi. Namun seandainya kita tidak
menggunakan paku besi, tetapi kayu, ternyata bola kedua tetap netral, artinya
muatan listrik pada bola pertama tidak berpindah menuju bola kedua. Kamu dapat
menggunakan tespen untuk mengetahui apakah bola logam tersebut bermuatan
listrik. Benda-benda yang berperilaku seperti paku besi digolongkan sebagai
konduktor listrik, yaitu benda-benda yang dapat menghantarkan listrik.
Sebaliknya, benda-benda yang berperilaku seperti kayu digolongkan sebagai isolator
listrik, yaitu benda-benda yang tidak dapat menghantarkan listrik. Dapatkah
kamu memberikan contoh lain konduktor dan isolator listrik? Selain bersifat
konduktor dan isolator, ada benda benda yang bersifat di antara kategori
tersebut. Misalnya silikon, germanium, dan arsen. Benda-benda ini termasuk
dalam kategori semi-konduktor.
Tulis jawaban pada buku kerjamu.
1. Sebutkan bagian-bagian dari atom!
2. Apa yang terjadi jika benda bermuatan
positif didekatkan dengan benda bermuatan negatif?
3. Sebutkan 5 contoh benda yang ada
disekitarmu termasuk konduktor listrik!
4. Apa perbedaan konduktor dan isolator?
5. Sebutkan benda-benda yang termasuk dalam
semikonduktor!
B. ELEKTROSKOP
Elektron-elektron pada batang logam netral
tidak meninggalkan logam, namun akan bergerak menuju benda bermuatan positif,
dan meninggalkan muatan positif di ujung lain. Walaupun secara keseluruhan batang
logam tersebut netral, namun pada batang logam tersebut terjadi pemisahan
muatan. Jika kita dapat memotong logam tersebut, maka kita akan memperoleh dua
potong logam dengan muatan listrik yang tidak sejenis. Pemuatan listrik dengan
cara demikian disebut pemuatan secara induksi.
1. Elektroskop
Keberadaan muatan listrik pada sebuah benda dapat diketahui
dengan elektroskop. Bangun elektroskop terdiri atas dua buah daun logam
tipis yang dipasang pada ujung batang logam. Ujung lain batang itu
biasanya dipasang bola logam (knob). Untuk menghindarkan dari
berpindahnya muatan ke udara bebas, batang tersebur dimasukkan ke dalam
kaca.
Elektroskop, pada saat netral daun-daun logam menguncup; saat
sisir bermuatan negatif didekatkan, elektron pada batang logam terdorong menuju
daun elektroskop, dan daun mekar; saat kaca bermuatan positif didekatkan
elektron pada batang logam bergerak ke knop, sehingga daun bermuatan positif,
dan daun mekar. Memberi muatan dengan cara induksi. (a) Batang
logam netral, (b) Batang logam secara keseluruhan netral,
namun terjadi pemisahan muatan listrik pada batang tersebut.
2. Pengosongan muatan listrik
Muatan listrik pada suatu benda dapat hilang
dengan pengosongan. Pengosongan muatan listrik dapat terjadi jika ada jalan
agar muatan yang terkumpul pada suatu benda dapat berpindah ke benda lain, atau
ke bumi. Pengosongan muatan listrik ke bumi disebut pentanahan. Kita tidak
khawatir dengan pengosongan muatan listrik pada benda-benda seperti plastik,
sisir, batang kaca, dan lain-lain. Namun kita mesti berhati-hati dan peduli
dengan pengosongan muatan listrik yang besar, misalnya pengosongan muatan
listrik pada awan dalam bentuk petir.Perhatikan Gambar berikut untuk mengetahui
petir sebagai peristiwa pengosongan muatan listrik.
Selain berbahaya bagi manusia karena dapat
mengakibatkan kematian bagi yang disambarnya, petir dapat menyebabkan kerusakan
bangunan yang tinggi. Untuk mencegahnya, gedung-gedung dipasang penangkal
petir. Penangkal petir berupa batang logam yang berujung lancip, dan
dihubungkan ke tanah dengan kawat logam yang relative besar. Penangkal petir
menyediakan jalan bagi muatan listrik di awan agar dapat berpindah menuju tanah
melalui kawat, dan bukannya melalui bangunan.
C. HUKUM COULOMB
Kamu
telah mengetahui, bahwa benda-benda yang bermuatan sejenis akan tolak-menolak,
dan benda-benda yang bermuatan tidak sejenis akan tarik menarik. Tarik-menarik
dan tolak-menolak tersebut diakibatkan oleh adanya gaya tarik atau gaya tolak.
Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi besarnya gaya listrik
tersebut?
Pada
Kegiatan 2, tentunya kamu mengetahui, bahwa besarnya gaya tarik atau tolak
pada benda-benda bermuatan listrik ternyata dipengaruhi oleh jarak antara benda
bermuatan tersebut. Kamu harus mendekatkan penggaris plastik yang telah digosok
sedekat mungkin dengan batang kaca, agar kamu dapat melihat gejala gaya tarik yang
terjadi. Jika penggaris plastik kamu letakkan pada relatif jauh dari batang
kaca, maka gaya tarik yang terjadi tidak dapat diamati, karena kecilnya.
Ternyata, gaya tarik-menarik atau tolak-menolak antara muatan listrik
dipengaruhi oleh jarak antara muatan tersebut. Jika jarak antara muatan kecil
(berdekatan), maka gaya listrik yang terjadi besar. Sebaliknya jika jaraknya diperbesar
(berjauhan), maka gaya listrik yang terjadi kecil.
Kamu
juga mengamati, agar gaya tarik-menarik atau tolak-menolak yang terjadi besar, kamu harus
menggosok batang kaca atau penggaris plastik dengan kain keras-keras dan
beberapa kali gosokan. Semakin keras dan sering kamu menggosoknya, muatan
listrik yang terkumpul juga semakin besar. Hal ini menunjukkan semakin banyak
muatan listrik yang ada, gaya listrik yang terjadi juga semakin besar. Gejala seperti yang
kamu amati di atas telah diselidiki oleh ilmuwan Perancis yang bernama Charles
Coulomb (1736-1806). Pada tahun 1785, beliau menyelidiki hubungan antara besar
muatan dan jarak antara muatan dengan besar gaya listrik yang
dihasilkan.
Penyelidikan
Coulomb menggunakan 2 bola konduktor kecil A dan A’ yang digantungkan melalui
kawat tipis. Bola serupa, yaitu bola B diletakkan di dekat bola A. Bola A dan B
bersama-sama disentuhkan pada benda bermuatan, sehingga mendapatkan muatan yang
sama, karena ukuran bola tersebut sama. Ketika bola B diletakkan pada jarak
tertentu dari bola A, maka batang penghubung A dan A’ akan berputar sedikit.
Dengan mengukur sudut putaran tersebut, Coulomb dapat menentukan gaya yang diperlukan
untuk memutarnya.
Dengan
menempatkan bola B yang berubah-ubah jaraknya dari bola A, dan mengukur gaya
listrik yang dihasilkan, Coulomb berkesimpulan bahwa gaya listrik (F) yang
terjadi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua pusat bola A dan
B. Pernyataan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.
Berdasarkan hasil
tersebut, jika jarak antara muatan listrik menjadi 2 kalinya, ternyata gaya listrik yang
terjadi tinggal ½2 atau ¼ dari gaya semula. Jika
jarak antara muatan listrik dijadikan 3 kalinya, maka gaya listrik yang
terjadi tinggal 1/32 atau 1/9 dari gaya semula.
Coulomb
selanjutnya mengubah-ubah muatan listrik pada bola A dan bola B, dengan cara
menyentuhkan bola A dan bola B pada bola serupa yang netral, sehingga muatan di
bola A dan bola B menjadi tinggal separuhnya. Hasil percobaannya menunjukkan,
gaya listrik berbanding lurus dengan besar muatan di bola A (qA) dan besar
muatan di bola B (qB), atau F = qA qB Berdasarkan hasil tersebut, misalkan muatan
di bola A menjadi 2 kali semula, dan muatan di bola B menjadi 3 kali semula,
maka gaya listrik yang terjadi menjadi 2 × 3 atau 6 kali semula.
Berdasarkan
hasil-hasil di atas, akhirnya Coulomb menyimpulkan besar gaya listrik antara
dua muatan listrik yang terpisah pada jarak tertentu berbanding lurus dengan besar
kedua muatan tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak kedua muatan
tersebut. Pernyataan ini dikenal sebagai Hukum Coulomb, secara matematika dapat
dituliskan sebagai berikut.
dengan q = muatan listrik
...................................... coulomb (C)
r = jarak
................................................. meter (m)
F = Gaya
................................................. Newton (N)
k = konstanta = 9 × 109 Nm2C−2
Satuan muatan listrik
Muatan suatu benda sangat sulit untuk diukur secara langsung.
Tetapi Coulomb menunjukkan bahwa besarnya muatan listrik dapat
ditentukan dengan cara mengukur gaya listrik yang dihasilkannya. Di dalam sains, setiap besaran
memiliki satuan. Satuan muatan listrik dalam sistem SI adalah coulomb
(C). Muatan listrik 1 elektron adalah 1,6 × 10−19 coulomb, dan jenisnya
negatif, sedangkan muatan listrik 1 proton besarnya sama dengan muatan 1
elektron, namun jenisnya positif. Besar muatan 1 elektron disebut muatan
elementer, dan merupakan besar muatan terkecil di alam.
D. Medan Listrik
Jika benda A yang bermuatan listrik diletakkan di suatu ruang
yang di dalamnya sudah ada benda B. Jika benda B bermuatan listrik, benda A
akan mengalami gaya listrik juga. Ruang di sekitar A maupun B disebut medan listrik.
Jadi,
yang dimaksud dengan medan listrik (E) adalah ruangan di sekitar benda bermuatan
listrik yang mengalami gaya listrik. Jika
suatu benda yang bermuatan listrik diletakkan di suatu ruangan, maka
dalam ruangan tersebut terdapat medan listrik. Jika benda lain yang bermuatan listrik diletakkan di
ruang tersebut, maka kedua benda akan mengalami gaya. Jika
muatan kedua benda sejenis, maka gaya yang terjadi adalah
gaya tolak-menolak dan jika kedua benda mempunyai muatan yang
tidak sejenis, maka gaya yang terjadi adalah gaya tarik-menarik.
Medan listrik dilukiskan dengan garis-garis gaya listrik yang
arahnya dari kutub positif ke kutub negatif (Gambar 7.10). Kuat medan listrik
bergantung pada kerapatan garis-garis gaya listrik. Besar
kuat medan listrik dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut.
dengan E = kuat medan listrik
........................................ N/C
F = gaya Coulomb
.............................................. N
q = besar muatan listrik ..................................... C
Karena
berarti E = k(q1 × q2)/r2
/ q
dengan k = tetapan = 9 × 109 Nm2/C2
r = jarak antara dua muatan
.................................. m
q = muatan listrik pada sumber medan
................ C
Contoh :
Dua benda A dan B masing-masing bermuatan
listrik sebesar 6 × 10−9 C dan 8 × 10−9 C pada jarak 4 cm. Tentukan:
a. gaya tolak-menolak
antara kedua benda itu tersebut,
b. kuat medan listrik
pada titik B oleh muatan A.
Diketahui : qa = 6 × 10-9 C, qb = 8 × 10-9 C, k
= konstanta = 9 × 109 Nm2C-2
Ditanya : a. F b.
E 2
Jawab :
=
9 × 109 Nm2 C-2 × ( 6x 10-9 x 8 x
10-9)/ (4x10-2 )2
C2 m-2
=
2,7 × 10-9 N
Jadi,
muatan yang listrik mengalir adalah 2,7 × 10-9 N.
b. E = F/qb = 2,7 × 10-9 N / 8 × 10-9
C = 0,34 N/C.
Jadi,
kuat medan listrik pada titik B adalah 0,34 N/C.
Tulis jawaban pada buku kerjamu.
1. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi
besarnya gaya listrik.
2. Sebutkan contoh peristiwa di sekitarmu yang
termasuk dalam pengosongan muatan listrik.
3. Apa perbedaan dari induksi dan konduksi
dalam pengumpulan muatan listrik?
4. Dua buah benda A danB masing-masing
memiliki muatan listrik sejenis 3 × 10-9 C dan 5 × 10-9 C terpisah sejauh 3 cm.
Jika k = 9 × 109 Nm2/C2, maka hitung gaya tolak antara kedua muatan listrik
tersebut.
5. Besar gaya Coulomb antara
dua benda adalah 7 × 10-5 N. Hitunglah besar kuat medan listrik pada salah satu muatan oleh muatan lain yang besarnya
3,5 × 10-9 C.
RANGKUMAN
1. Kumpulan muatan listrik pada suatu benda
disebut listrik statis.
2. Terdapat dua jenis muatan listrik, yaitu
muatan positif dan negatif.
3. Muatan-muatan yang sejenis tolak-menolak
dan muatan yang tidak sejenis tarik-menarik.
4. Pengumpulan muatan listik dapat diperoleh
melalui cara menggosok, menyentuhkan benda netral dengan benda bermuatan
(konduksi), dan induksi.
5. Muatan listrik dapat dideteksi dengan
elektroskop.
6. Penghilangan muatan listrik yang terkumpul
pada suatu benda disebut pengosongan muatan.
7. Hukum Coulomb menyatakan, bahwa gaya yang terjadi
antara dua buah muatan berbanding lurus dengan besar muatan dan berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak antara kedua muatan itu.
REFLEKSI
- Apa kamu kesulitan ketika belajar materi bab
ini?
- Coba kamu buat resume tentang materi bab ini
berdasarkan pemahamanmu. Kamu dapat menambah pengetahuanmu tentang materi bab
ini melalui browsing di internet.
Bab II . LISTRIK DINAMIS
Listrik
statis dan listrik dinamis sama-sama mempelajari tentang muatan-muatan listrik
pada suatu benda. Hanya bedanya pada listrik statis khusus mempelajari tentang
muatan-muatan listrik dalam keadaan diam pada suatu benda. Adapun, pada listrik
dinamis khusus mempelajari tentang muatan muatan listrik (elektron) yang bergerak
melalui penghantar.
A. ARUS LISTRIK
1. Pengertian Arus Listrik dan
Beda Potensial
Pada bab sebelumnya kamu sudah mempelajari muatan listrik pada
suatu benda. Dua benda atau dua tempat yang muatan listriknya berbeda dapat
menimbulkan arus listrik. Benda atau tempat yang muatan listrik positifnya
lebih banyak dikatakan mempunyai potensial lebih tinggi. Adapun, benda atau
tempat yang muatan listrik negatifnya lebih banyak dikatakan mempunyai
potensial lebih rendah. Dua tempat yang mempunyai beda potensial dapat
menyebabkan terjadinya arus listrik. Syaratnya, kedua tempat itu dihubungkan
dengan suatu penghantar. Dalam kehidupan sehari-hari, beda potensial sering
dinyatakan sebagai tegangan. Selanjutnya perhatikan Gambar 8.1. Pada Gambar
8.1, A dikatakan lebih positif atau berpotensial lebih tinggi daripada B. Arus
listrik yang terjadi berasal dari A menuju B. Arus listrik terjadi karena
adanya usaha penyeimbangan potensial antara A dan B. Dengan demikian dapat
dikatakan, arus listrik seakan- akan berupa arus muatan positif. Arah arus
listrik berasal dari tempat berpotensial tinggi ke tempat yang berpotensial
lebih rendah.
Pada
kenyataannya muatan listrik yang dapat berpindah bukan muatan positif,
melainkan muatan negatif atau elektron. Karena itu, berdasarkan Gambar 8.1 yang
terjadi sebenarnya adalah terjadinya aliran elektron dari tempat berpotensial
lebih rendah ke tempat yang berpotensial lebih tinggi. Jadi berdasarkan uraian
di atas, arus listrik terjadi jika ada perpindahan elektron. Kedua benda bermuatan
(Gambar 8.1 jika dihubungkan melalui kabel akan menghasilkan arus listrik yang
besarnya dapat ditulis dalam rumus I = Q /t
Dengan: I = besar kuat arus, satuannya ampere
(A)
Q = besar muatan listrik, satuannya coulomb
(C)
t = waktu tempuh, satuannya sekon (s)
Berdasarkan
uraian tersebut, arus listrik dapat didefinisikan sebagai banyaknya elektron
yang berpindah dalam waktu tertentu. Kamu sudah mengetahui bahwa perbedaan
potensial akan mengakibatkan perpindahan elektron. Banyaknya energi listrik
yang diperlukan untuk mengalirkan setiap muatan listrik dari ujung-ujung
penghantar disebut beda potensial listrik atau tegangan listrik. Hubungan
antara energi listrik, muatan listrik, dan beda potensial listrik secara
matematik dirumuskan V = W/Q
dengan: V = beda potensial listrik
satuannya volt (V)
W = energi listrik
satuannya joule (J)
Q = muatan listrik
satuannya coulomb (C)
Dengan demikian, beda potensial adalah
besarnya energi listrik untuk memindahkan muatan listrik.
Contoh: Kuat arus listrik yang mengalir pada lampu 250 mA. Jika lampu
menyala selama 10 jam, berapakah a. muatan listrik yang mengalir pada lampu? b.
banyaknya elektron yang mengalir pada mapu (1 elektron = 1,6 × 10-19C)
Penyelesaian:
Diketahui: I = 250 mA = 0,25 A , t = 10 jam =
36.000 s
Ditanyakan: a. Q = ... ? b. ne = .. ?
Jawab:
a. Q = I × t
= 0,25 A × 36.000 s
= 9.000 C
Jadi, muatan yang mengalir pada lampu sebesar
9.000 C.
b. Karena 1 elektron (e) mempunyai muatan 1,6
× 10-19C, maka untuk muatan sebesar 9.100 C mempunyai elektron sebanyak
Penyelesaian:
Diketahui: I = 250 mA = 0,25 A
t = 10 jam = 36.000 s
Ditanyakan: a. Q = ... ?
b. ne = .. ?
Jawab:
a. Q = I × t
= 0,25 A × 36.000 s
= 9.000 C
Jadi, muatan yang mengalir pada lampu sebesar
9.000 C.
b. Karena 1 elektron (e) mempunyai
muatan 1,6 × 10-19C, maka untuk muatan sebesar 9.100 C mempunyai elektron
sebanyak =
ne = Q / e = 9.000 C / 1,6 x 10-19 C =1,5 x 1016 elektron
Jadi, pada lampu itu elektron yang mengalir
sebanyak 1,5× 1016 (15 diikuti nol 15 buah) elektron.
2. Mengukur Kuat Arus Listrik
Kuat
arus listrik yang mengalir dalam penghantar atau rangkaian listrik dapat diukur
besarnya dengan menggunakan amperemeter atau ammeter. Amperemeter ada dua
jenis, yaitu amperemeter digital dan amperemeter jarum. Ciri sebuah amperemeter
jarum adalah adanya huruf A pada permukaan skala. Bagaimanakah cara mengukur
kuat arus listrik yang mengalir dalam rangkaian listrik? Untuk lebih memahami
cara mengukur kuat arus listrik, cobalah kamu lakukan Kegiatan 8.1 secara
berkelompok. Sebelumnya bentuklah satu kelompok yang terdiri 4 siswa; 2
laki-laki dan 2 perempuan.
KEGIATAN 1
Tujuan: Mengukur kuat arus listrik komponen secara seri dan paralel.
Alat dan Bahan:
– Lampu
– Sakelar
– Amperemeter
– Baterai
Cara Kerja:
1. Rangkailah peralatan yang tersedia seperti
gambar.
2. Tutuplah sakelar. Amatilah lampu dan catat
besar arus listrik melalui amperemeter.
3. Ulangi cara kerja nomor 1 dan 2 dengan
mengganti jumlah baterai, baik secara seri maupun paralel.
4. Catatlah pengamatan kelompokmu pada sebuah
tabel di buku kerjamu.
Pertanyaan:
1. Mengapa lampu pada rangkaian dapat menyala?
2. Mengapa ketika baterai diubah, nyala lampu
juga berubah?
3. Nyatakan kesimpulan kelompokmu dalam buku
kerjamu.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kamu dapat mengamati adanya gejala beda potensial di
baterai atau akumulator. Beberapa baterai dapat disusun secara seri maupun paralel.
Yang dimaksud susun seri adalah kutub positif disambungkan dengan kutub negatif
lainnya. Adapun, untuk susun paralel adalah kutub-kutub yang sejenis disatukan.
Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 8.2.
Susunan seri Susunan
parallel
Untuk
susun seri akan menghasilkan kuat arus listrik yang lebih besar daripada
rangkaian susunan paralel. Hal itu disebabkan oleh bertambahnya beda potensial.
Karena itu jika kedua macam rangkaian itu digunakan untuk menyalakan lampu,
akan menghasilkan nyala yang berbeda. Dapatkah kamu menjelaskan hal tersebut?
1. Ke manakah (P ataukah Q) arah aliran
elektron dan arah arus listrik pada kawat penghantar berikut?
2. Apakah yang
dimaksud kuat arus 5 ampere?
TUGAS INDIVIDU
Sediakan lampu
2,5 V, baterai 2 buah, dan kabel secukupnya. Dengan berdasarkan peralatan
tersebut, rancanglah beberapa variasi rangkaian untuk menyalakan lampu. Ada berapa variasi
rangkaian yang dapat kamu gunakan untuk menyalakan lampu?
B. HUKUM OHM
Arus listrik dapat mengalir pada rangkaian listrik apabila
dalam rangkaian itu terdapat beda potensial dan rangkaiannya tertutup. Hubungan
antara kuat arus listrik dengan beda potensial listrik pertama kali diteliti
oleh ahli Fisika dari Jerman bernama Georg Simon Ohm (1789–1854). Hasil
penelitiannya dikenal dengan nama Hukum Ohm. Untuk memahami lebih mendalam
tentang Hukum Ohm, lakukan tugas berikut secara berkelompok. Sebelumnya
bentuklah kelompok yang terdiri 4 orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan.
TUGAS PROYEK
Tujuan: Menyelidiki Hukum Ohm
Alat dan Bahan:
– Lampu
– Sakelar
– Voltmeter (basicmeter)
– Amperemeter (basicmeter)
– Baterai 4 buah
Cara Kerja:
1. Rangkailah alat-alat
seperti gambar di samping.
2. Tutup sakelar S, amati
voltmeter dan amperemeter dan catat hasil pengukuran kedua alat itu ke dalam
tabel.
3. Ulangilah langkah 2 dengan
mengganti sumber tegangan dengan 2 baterai, 3 baterai, dan 4 baterai.
4. Buka sakelar S.
5. Hitunglah hambatan lampu
dengan membandingkan kolom beda potensial (V) dan kolom kuat arus (I).
6. Buatlah grafik V-I di buku
kerjamu.
Pertanyaan:
1. Bagaimanakah hasil
perbandingan beda potensial dengan kuat arus listrik dalam tiap-tiap percobaan?
2. Bagaimanakah nyala lampu
dalam tiap-tiap percobaan?
3. Bagaimanakah bentuk grafik
V–I?
4. Apa kesimpulanmu setelah
melakukan kegiatan ini?
5. Presentasikan tugasmu di
muka kelas.
Hubungan antara beda potensial (V) dengan kuat arus (I) dapat
dinyatakan dengan grafik, seperti pada Gambar berikut :
v
I
Garis kemiringan merupakan
perbandingan antara ordinat dengan absis yang besarnya selalu tetap. Jika nilai
perbandingan yang besarnya tetap itu didefinisikan sebagai hambatan listrik
(disimbolkan dengan huruf R) maka dapat dinyatakan dengan rumus. R = V/I
, Dengan: V = tegangan listrik satuan volt (V)
I = kuat arus listrik satuan
ampere (A), R = hambatan listrik satuan ohm ( Ω )
Rumus di atas dikenal dengan
nama Hukum Ohm yang menyatakan bahwa, besar kuat arus listrik yang mengalir
sebanding dengan beda potensial listrik dan berbanding terbalik dengan hambatan.
Untuk lebih memahami Hukum Ohm perhatikan
contoh :
1. Kawat penghantar kedua
ujungnya memiliki beda potensial 6 volt, menyebabkan arus listrik mengalir pada
kawat itu 2 A. Berapakah hambatan kawat itu?
Penyelesaian:
Diketahui: V = 6 volt, I = 2
A
Ditanya: R = ... ?
Jawab: R = V/I = 6 / 2 = 3 Ω
Jadi, hambatan kawat itu
sebesar 3 Ω
2. Konduktor berhambatan 400
Ω dihubungkan dengan sumber tegangan, sehingga mengalir arus listrik 500 mA.
Berapakah beda potensial ujung-ujung konduktor tersebut?
Penyelesaian:
Diketahui: R = 400 Ω, I = 500
mA = 0,5 A
Ditanya: V = ... ?
Jawab: V = I × R
= 0,5 × 400
= 200 V
Jadi, beda potensial pada
kedua ujung konduktor adalah 200 V
C. DAYA HANTAR
LISTRIK
Kamu sudah
mengetahui bahwa dua ujung penghantar yang mempunyai beda potensial dapat
mengalirkan arus listrik. Menurutmu, apakah arus yang mengalir dalam penghantar
tersebut tidak mengalami hambatan apapun? Untuk mengetahui jawabannya, ikutilah
uraian berikut.
Di dalam kawat penghantar arus listrik dihasilkan oleh
aliran elektron. Muatan positif tidak bergerak karena terikat kuat di dalam
inti atom. Ketika ujung-ujung kawat penghantar mendapat beda potensial,
elektron akan mengalir melalui ruang di antara sela-sela muatan positif yang
diam. Tumbukan elektron dengan muatan positif sering terjadi sehingga
menghambat aliran elektron dan mengurangi arus listrik yang dihasilkan. Makin
panjang kawat penghantar makin banyak tumbukan elektron yang dialami, sehingga
makin besar pula hambatan yang dialami elektron. Akibatnya makin kecil arus
yang mengalir. Oleh karena itu, hambatan kawat penghantar dipengaruhi
olehpanjang kawat, luas penampang kawat, dan jenis kawat.
Bagaimanakah pengaruh panjang kawat, luas penampang kawat,
dan jenis kawat terhadap besarnya hambatan? Untuk mengetahui pengaruh panjang
kawat, luas penampang kawat, dan jenis kawat terhadap besarnya hambatan,
lakukan Kegiatan 2 secara kelompok. Sebelumnya bentuklah kelompok yang terdiri
4 siswa; 2 laki-laki dan 2 perempuan.
KEGIATAN 2
Tujuan: Menyelidiki hambatan kawat penghantar
Alat dan Bahan:
– Berbagai jenis kawat
(konstanta, nikrom, tembaga, nikelin)
– Sakelar
– Voltmeter (basicmeter)
– Amperemeter (basicmeter)
– Baterai 4 buah
– Lampu
Cara Kerja:
1. Rangkailah alat-alat
seperti gambar di bawah.
2. Letakkan kawat konstanta
panjang 5 cm pada ujung AB.
3. Tutup sakelar S, amati
voltmeter dan amperemeter dan catat hasil pengukuran kedua alat itu ke dalam
tabel.
4. Ulangilah langkah 2 dengan
mengganti kawat konstanta dengan kawat nikrom yang panjangnya sama.
5. Buka sakelar S.
6. Ujilah semua jenis kawat
yang tersedia.
7. Ulangi langkah 2 s.d 6
untuk kawat tembaga yang panjangnya 5 cm, 10 cm, 15 cm, dan 20 cm. Catat
hasilnya pada suatu tabel di buku kerjamu.
Pertanyaan:
1. Bagaimanakah hasil
perbandingan tegangan dan kuat arus pada tiap-tiap percobaan berdasarkan data
pada tabel?
2. Apa kegunaan lampu pada
percobaan ini?
3. Apakah kesimpulanmu
setelah melakukan kegiatan ini?
Percobaan di atas apabila dilakukan dengan cermat, akan
menunjukkan bahwa hambatan kawat penghantar sebanding dengan panjang kawat.
Kawat yang panjang hambatannya besar sehingga menyebabkan kuat arus kecil dan
nyala lampu redup. Besar hambatan kawat penghantar bergantung pada jenis kawat.
Kawat yang jenisnya berbeda, hambatannya juga berbeda. Hal itu dikarenakan
kawat yang hambatan jenisnya besar akan menyebabkan hambatan kawat penghantar
juga besar. Hambatan jenis beberapa jenis bahan disajikan pada Tabel berikut :
Tabel. Hambatan
jenis beberapa bahan
Jenis bahan
|
Hambatan
jenis ( Ω .m)
|
Jenis bahan
|
Hambatan
jenis ( Ω .m)
|
Perak
Tembaga
Aluminium
Platina
Baja
Mangan
Nikrom
Karbon
|
5,9 × 10-8
1,68 × 10-8
2,65 × 10-8
10,6 × 10-8
4,0 × 10-7
4,4 × 10-7
1,2 × 10-6
3,5 × 10-5
|
Wolfram
Germanium
Silikon
Kayu
Karet
Kaca
Mika
Kuarsa
|
5,5 × 10-5
4,5 × 10-1
2,0 × 10-1
10 – 1011
1,0 × 1013
1012 – 1013
2,0 × 1015
1,0 × 1018
|
Apabila Kegiatan 2 dilakukan
dengan menggunakan kawat sejenis dengan panjang yang sama, tetapi luas
penampangnya berbeda maka dihasilkan hambatan yang berbeda pula. Hambatan makin
kecil, apabila luas penampang kawat besar. Hubungan antara hambatan kawat penghantar,
panjang kawat, luas penampang kawat, dan jenis kawat secara matematis
dirumuskan.
R = ρ . l / A
Dengan: R = hambatan kawat
satuan ohm ( Ω )
ρ = hambatan jenis kawat
satuan ohm meter ( Ω .m)
l = panjang kawat satuan meter (m)
A = luas penampang kawat
satuan meter kuadrat (m2)
Apakah pengaruh penggunaan kawat penghantar yang panjang
pada jaringan listrik PLN? Penggunaan kawat penghantar yang panjang menyebabkan
turunnya tegangan listrik. Tegangan listrik yang diberikan pada kawat yang
panjang tidak dapat merubah besar hambatan, tetapi hanya merubah besar arus
listrik yang mengalir melalui kawat itu. Jika kawat penghantar itu panjang,
kuat arus listrik yang mengalir kecil seiring turunnya tegangan listrik. Oleh
karena itu diperlukan tegangan yang tinggi untuk mengalirkan arus listrik. Hal
ini diterapkan pada jaringan kabel listrik yang panjangnya mencapai ratusan
kilometer. Agar listrik dapat dinikmati konsumen diperlukan tegangan listrik
yang tinggi sampai ribuan megavolt.
Contoh:
1. Kawat tembaga panjangnya
15 m memiliki luas penampang 5 mm2. Jika hambatan jenisnya 1,7 ×
10-8 Ω .m, berapakah hambatan kawat tembaga?
Penyelesaian:
Diketahui: l = 15 m, A = 5 mm2
= 5 × 10-6 m2,, ρ = 1,7 × 10-8 Ω .m
Ditanya: R = ... ?
Jawab: R = ρ.l /A = 17x 10-8
. 15 / 5 x10-6
= 1,7 × 3×10-2
= 5,1×10-2 Ω
Jadi, hambatan kawat tembaga
itu 5,1× 10-2Ω
2. Dua kawat A dan B luas
penampangnya sama dan terbuat dari bahan yang sama. Panjang kawat A tiga kali
panjang kawat B. Jika hambatan kawat A 150 Ω , berapakah hambatan kawat B?
Penyelesaian:
Diketahui: AA = AB,
lA = 3 lB
ρA
= ρB, RA= 150 Ω
Ditanya: RB = ...
?
Jawab: lA = 3lB
Jadi, hambatan kawat B adalah
30 Ω
Hambatan jenis setiap bahan berbeda-beda. Bahan yang
mempunyai hambatan jenis besar memiliki hambatan yang besar pula, sehingga
sulit menghantarkan arus listrik. Berdasarkan daya hantar listriknya
(konduktivitas listrik), bahan dibedakan menjadi tiga, yaitu konduktor, isolator,
dan semikonduktor. Konduktor adalah bahan yang mudah menghantarkan arus
listrik. Bahan konduktor memiliki hambatan kecil karena hambatan jenisnya
kecil. Bahan konduktor memiliki elektron pada kulit atom terluar yang gaya tariknya
terhadap inti atom lemah. Dengan demikian, apabila ujung-ujung konduktor
dihubungkan dengan tegangan kecil saja elektron akan bergerak bebas sehingga
mendukung terjadinya aliran elektron (arus listrik) melalui konduktor.
Contohnya: tembaga, perak, dan aluminium.
Isolator merupakan bahan yang sulit menghantarkan arus
listrik. Bahan isolator memiliki hambatan besar karena hambatan jenisnya besar.
Bahan isolator memiliki elektron-elektron pada kulit atom terluar yang gaya tariknya dengan
inti atom sangat kuat. Apabila ujung-ujung isolator dihubungkan dengan tegangan
kecil, elektron terluarnya tidak sanggup melepaskan gaya ikat inti. Oleh
karena itu, tidak ada elektron yang mengalir dalam isolator, sehingga tidak ada
arus listrik yang mengalir melalui isolator. Plastik, kaca, karet busa termasuk
isolator. Dapatkah isolator bersifat seperti konduktor? Semikonduktor adalah
bahan yang daya hantar listriknya berada di antara konduktor dan isolator.
Semikonduktor memiliki elektron-elektron pada kulit terluar terikat kuat oleh gaya inti atom. Namun
tidak sekuat seperti pada isolator. Bahan yang termasuk semikonduktor adalah
karbon, silikon dan germanium. Karbon digunakan untuk membuat komponen
elektronika, seperti resistor.
Silikon dan germanium digunakan untuk membuat komponen
elektronika, seperti diode, transistor, dan IC (integrated circuit).
Bahan-bahan apakah yang termasuk konduktor, isolator, dan semikonduktor? Untuk
lebih memahami tentang konduktor dan isolator, lakukan kegiatan berikut secara
berkelompok. Sebelumnya bentuklah kelompok yang terdiri 4 orang; 2 laki-laki
dan dua perempuan.
KEGIATAN 3
Tujuan: Menyelidiki perbedaan bahan isolator dan konduktor
Alat dan Bahan:
– Lampu
– Kabel
– Bahan-bahan (pensil, besi,
seng, aluminium, tembaga, air)
– Baterai 2 buah
Cara Kerja:
1. Rangkailah alat-alat
seperti gambar di bawah.
2. Hubungkan ujung kabel
dengan pensil. Apakah lampu menyala? Catat jawabanmu ke dalam tabel.
3. Ulangilah langkah 2 dengan
mengganti pensil dengan bahan-bahan yang lain. Catat hasil semua pengamatanmu ke
dalam tabel di buku kerjamu.
Pertanyaan:
1. Bahan-bahan manakah yang
termasuk konduktor?
2. Bahan-bahan manakah yang
termasuk isolator?
3. Apakah kesimpulanmu
setelah melakukan kegiatan ini?
LATIHAN
1. Kawat A dan kawat B
berbeda jenisnya, tetapi hambatannya sama. Jika panjang kawat A enam kali
panjang kawat B dan diameter kawat A 4 kali diameter kawat B. Kawat manakah
yang memiliki hambatan jenis paling besar?
2. Kawat tembaga hambatannya
R. Jika kawat tersebut dipotong menjadi lima bagian yang
sama, berapakah besarnya hambatan sepotong kawat?
3. Dua kawat aluminium
masing-masing panjangnya 4 m dan 6 m. Jika diameter
kedua kawat sama, kawat
manakah yang hambatannya paling besar?
4. Dua kawat P dan Q panjang
dan jenisnya sama, tetapi luas penampangnya berbeda. Hambatan kawat P sebesar 20
Ω . Jika luas penampang kawat P empat kali luas penampang kawat Q, berapakah
hambatan kawat Q!
D. HUKUM I
KIRCHOFF
Muatan listrik yang mengalir melalui rangkaian listrik
bersifat kekal artinya muatan listrik yang mengalir ke titik percabangan dalam
suatu rangkaian besarnya sama dengan muatan listrik yang keluar dari titik
percabangan itu.
Qmasuk =
Qkeluar
Jika muatan mengalir selama
selang waktu t, kuat arus yang terjadi:
Imasuk =
Ikeluar
Persamaan
tersebut pertama kali dikemukakan oleh Robert Gustav Kirchoff seorang fisikawan
berkebangsaan Jerman (1824 – 1887) yang dikenal dengan Hukum I Kirchoff. Hukum
I Kirchoff berbunyi “jumlah kuat arus listrik yang masuk titik percabangan sama
dengan jumlah kuat arus listrik yang meninggalkan titik percabangan”.
Bagaimanakah penerapan Hukum I Kirchoff pada rangkaian listrik? Hukum I
Kirchoff yang membahas kuat arus yang mengalir pada rangkaian listrik dapat
diterapkan pada rangkaian listrik tak bercabang (seri) maupun rangkaian listrik
bercabang (paralel).
E. RANGKAIAN HAMBATAN LISTRIK
Secara
umum rangkaian hambatan dikelompokkan menjadi rangkaian hambatan seri, hambatan
paralel, maupun gabungan keduanya. Untuk membuat rangkaian hambatan seri maupun
parallel minimal diperlukan dua hambatan. Adapun, untuk membuat rangkaian
hambatan kombinasi seri-paralel minimal diperlukan tiga hambatan.
Jenis-jenis rangkaian hambatan tersebut
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, jenis rangkaian
hambatan yang dipilih bergantung pada tujuannya.
1. Hambatan seri
Dua hambatan atau lebih yang disusun secara
berurutan disebut hambatan seri. Hambatan yang disusun seri akan membentuk
rangkaian listrik tak bercabang. Kuat arus yang mengalir di setiap titik
besarnya sama. Tujuan rangkaian hambatan seri untuk memperbesar nilai hambatan
listrik dan membagi beda potensial dari sumber tegangan. Rangkaian hambatan
seri dapat diganti dengan sebuah hambatan yang disebut hambatan pengganti seri
(Rs).
Tiga buah lampu masing-masing hambatannya R1,
R2, dan R3 disusun seri dihubungkan dengan baterai yang
tegangannya V menyebabkan arus listrik yang mengalir I. Tegangan sebesar V
dibagikan ke tiga hambatan masing-masing V1, V2, dan V3,
sehingga berlaku:
V = V1 + V2
+ V3
Berdasarkan Hukum I Kirchoff pada rangkaian
seri (tak bercabang) berlaku:
I = I1 = I2
= I3
Berdasarkan Hukum Ohm, maka beda potensial
listrik pada setiap lampu yang hambatannya R1, R2, dan R3
dirumuskan:
V1 = I × R1 atau VAB
= I × RAB
V2 = I × R2 atau VBC
= I × RBC
V3 = I × R3 atau VCD
= I × RCD
Beda potensial antara ujung-ujung AD berlaku:
VAD = VAB +
VBC + VCD
I × RS = I × RAB + I × RBC
+ I × RCD
I × RS = I × R1 + I × R2
+ I × R3
Jika kedua ruas dibagi dengan I, diperoleh
rumus hambatan pengganti seri (RS):
RS = R1 + R2
+ R3
Jadi, besar hambatan pengganti seri merupakan
penjumlahan besar hambatan yang dirangkai seri. Apabila ada n buah hambatan
masing-masing besarnya R1, R2, R3, ...., Rn
dirangkai seri, maka hambatan dirumuskan:
RS = R1 + R2
+ R3 + … + Rn
2. Hambatan Paralel
Dua hambatan atau lebih yang disusun secara
berdampingan disebut hambatan paralel. Hambatan yang disusun paralel akan membentuk
rangkaian listrik bercabang dan memiliki lebih dari satu jalur arus listrik.
Susunan hambatan paralel dapat diganti dengan sebuah hambatan yang disebut
hambatan pengganti paralel (RP). Rangkaian hambatan paralel
berfungsi untuk membagi arus listrik.
Tiga
buah lampu masing masing hambatannya R1, R2, dan R3
disusun paralel dihubungkan dengan baterai yang tegangannya V menyebabkan arus
listrik yang mengalir I.
Besar kuat arus I1, I2,
dan I3 yang mengalir pada masingmasing lampu yang hambatannya
masing-masing R1, R2, dan R3 sesuai Hukum Ohm
dirumuskan:
I1 = V/ R1 atau I1 =
VPQ / R1
I2 = V/ R2 atau I2 =
VPQ / R2
I3 = V/ R3 atau I3 =
VPQ / R3
Ujung-ujung
hambatan R1, R2, R3 dan baterai masing masing bertemu
pada satu titik percabangan. Besar beda potensial (tegangan) seluruhnya sama,
sehingga berlaku:
V = V1 = V2
= V3
Besar kuat arus I dihitung dengan rumus:
I = V/Rp
Kuat arus sebesar I dibagikan ke tiga hambatan
masingmasing I1, I2, dan I3. Sesuai Hukum I Kirchoff
pada rangkaian paralel berlaku:
I =
I1 = I2 = I3
V/RP = V/R1
+ V/R2 + V/R3
Jika kedua ruas dibagi dengan V, diperoleh
rumus hambatan pengganti paralel:
1/RP = 1/R1
+ 1/R2 + 1/R3
Jika ada n buah hambatan masing-masing R1,
R2, R3, ... Rn, hambatan pengganti paralel dari
n buah hambatan secara umum dirumuskan:
1/RP = 1/R1
+ 1/R2 + 1/R3….1/Rn
Bab III. ELEMEN DAN ARUS LISTRIK
Untuk dapat bergerak, mobil mainan memerlukan tenaga penggerak.
Tenaga itu berasal dari baterai yang ada di dalamnya. Pada baterai tersebut
terjadi perubahan energi kimia menjadi energi listrik. Baterai, sebagai tempat
pengubah suatu energy menjadi energi listrik, dikenal sebagai sumber arus listrik.
Fenomena perubahan suatu jenis energi menjadi energi listrik itu akan kamu
pelajari pada bab ini. Pada bab ini kamu akan mempelajari pengertian gaya gerak
listrik dan sumber arus listrik, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
-= Pretest =-
1. Kapankah terjadinya arus listrik?
2. Sebutkan sumber arus listrik DC yang sering
kamu temukan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Alat ukur apakah yang diperlukan untuk
mengukur arus listrik?
-= Kata-Kata Kunci =-
– gaya gerak listrik –
sumber arus listrik
– hambatan dalam – tegangan jepit
A. GAYA GERAK LISTRIK
Pernahkah
kamu memerhatikan tulisan 1,5 V pada baterai, atau 6 V dan 12 V pada
akumulator? Besaran 1,5 V, 6 V atau 12 V yang tertulis pada badan baterai atau
akumulator menunjukkan beda potensial listrik yang dimilikinya. Hal itu sering
disebut gaya gerak listrik (GGL). Untuk membantumu
memahami pengertian gaya gerak listrik , Jika sakelar ditutup, elektron di kutub negatif
baterai akan bergerak melalui penghantar menuju kutub positif. Selama dalam
perjalanannya, elektron mendapat tambahan energi dari gaya tarik kutub
positif. Namun, energi itu akan habis karena adanya tumbukan antarelektron; di
dalam lampu tumbukan itu mengakibatkan filamen berpijar dan mengeluarkan
cahaya. Sesampainya di kutub positif, elektron tetap cenderung bergerak menuju
ke kutub negatif kembali. Namun, hal itu sulit jika tidak ada bantuan energi luar.
Energi luar tersebut berupa energi kimia dari baterai. Energi yang diperlukan
untuk memindah elektron di dalam sumber arus itulah yang disebut gaya gerak listrik (GGL). Ketika sakelar
terbuka merupakan GGL baterai. Adapun tegangan terukur ketika sakelar tertutup
merupakan tegangan jepit. Nilai tegangan jepit selalu lebih kecil
daripada gaya gerak listrik. Tahukah kamu mengapa demikian?
LATIHAN
1. Apakah perbedaan antara GGL dengan tegangan
jepit?
2. Buatlah skema rangkaian untuk mengukur
tegangan pada setiap lampu yang terdiri atas: dua lampu, sakelar, dua
voltmeter, dan dua buah baterai!
B. SUMBER ARUS LISTRIK
Kamu
sudah mengetahui bagaimana terjadinya arus listrik. Selain itu kamu juga sudah
mengenal komponen yang dapat membantu gerakan elektron dalam suatu rangkaian.
Suatu komponen yang berfungsi sebagai tempat untuk mengubah satu jenis energi,
misalnya energi kimia dan energi gerak, menjadi energi listrik disebut sumber
arus listrik. Contohnya baterai, akumulator, dan generator.
Sumber
arus listrik dibedakan menjadi dua, yaitu sumber arus listrik bolak-balik (AC)
dan sumber arus listrik searah (DC). Sumber arus listrik AC dihasilkan oleh
dinamo arus AC dan generator. Ada beberapa macam
sumber arus searah, misalnya sel volta, elemen kering (baterai), akumulator, solar sel, dan dinamo
arus searah. Elemen volta, batu baterai, dan akumulator merupakan sumber arus
searah yang dihasilkan oleh reaksi kimia. Oleh karena itu, elemen volta, batu baterai,
dan akumulator sering disebut elektrokimia.Dikatakan elektrokimia sebab
alat tersebut mengubah energi kimia menjadi energi listrik.
Elemen
dibedakan menjadi dua, yaitu elemen primer dan elemen sekunder. Elemen
primer adalah elemen yang setelah habis muatannya tidak dapat diisi
kembali. Contohnya elemen volta dan batu baterai. Elemen sekunder adalah elemen yang
setelah habis muatannya dapat diisi kembali. Contohnya akumulator (aki). Pada elemen
volta, baterai, dan akumulator terdapat tiga bagian utama, yaitu
a. anode, elektrode positif yang memiliki
potensial tinggi,
b. katode, elektrode negatif yang memiliki
potensial rendah,
c. larutan elektrolit, cairan yang dapat
menghantarkan arus listrik.
Untuk
lebih memahami prinsip kerja beberapa contoh elektrokimia, ikutilah uraian
berikut.
1. Elemen Volta
Elemen
Volta dikembangkan pertama kali oleh Fisikawan Italia bernama Allesandro Volta
(1790-1800) dengan menggunakan sebuah bejana yang diisi larutan asam sulfat (H 2SO
4) dan dua logam tembaga (Cu) dan seng (Zn). Bagian utama elemen
Volta, yaitu
a. kutub positif (anode) terbuat dari tembaga
(Cu),
b. kutub negatif (katode) terbuat dari seng
(Zn),
c. larutan elektrolit terbuat dari asam sulfat
(H 2SO 4).
Lempeng
tembaga memiliki potensial tinggi, sedangkan lempeng seng memiliki potensial
rendah. Jika kedua lempeng logam itu dihubungkan melalui lampu, lampu akan
menyala. Hal ini membuktikan adanya arus listrik yang mengalir pada lampu.
Ketika lampu menyala, larutan elektrolit akan bereaksi dengan logam tembaga
maupun seng sehingga menghasilkan sejumlah elektron yang mengalir dari seng
menuju tembaga. Adapun, reaksi kimia pada elemen Volta adalah sebagai berikut.
· Pada larutan elektrolit terjadi reaksi : H 2SO4
→ 2H+ + SO2-4
· Pada kutub positif terjadi reaksi : Cu + 2H+→
polarisasi H2
. Pada kutub negatif terjadi reaksi : Zn + SO4→
ZnSO4+ 2e
Reaksi
kimia pada elemen Volta akan menghasilkan gelembung-gelembung gas hidrogen
(H2). Gas hidrogen tidak dapat bereaksi dengan tembaga, sehingga gas hidrogen
hanya menempel dan menutupi lempeng tembaga yang bersifat isolator listrik. Hal
ini menyebabkan terhalangnya aliran elektron dari seng menuju tembaga maupun
arus listrik dari tembaga menuju seng. Peristiwa tertutupnya lempeng tembaga
oleh gelembung-gelembung gas hidrogen disebut polarisasi. Adanya
polarisasi gas hidrogen pada lempeng tembaga menyebabkan elemen Volta mampu
mengalirkan arus listrik hanya sebentar. Tegangan yang dihasilkan setiap elemen
Volta sekitar 1,1 volt. Penggunaan larutan elektrolit yang berupa cairan
merupakan kelemahan elemen Volta karena dapat membasahi peralatan lainnya.
2. Elemen Kering
Elemen kering disebut juga baterai. Elemen
kering pertama kali dibuat oleh Leclance. Bagian utama elemen kering adalah
a. kutub positif (anode) terbuat dari batang
karbon (C),
b. kutub negatif (katode) terbuat dari seng
(Zn),
c. larutan elektrolit terbuat dari amonium
klorida (NH 4Cl),
d. dispolarisator terbuat dari mangan dioksida
(MnO 2).
Baterai
disebut elemen kering, karena elektrolitnya merupakan campuran antara serbuk
karbon, batu kawi, dan salmiak yang berwujud pasta (kering). Batang karbon
(batang arang) memiliki potensial tinggi, sedangkan lempeng seng memiliki
potensial rendah. Jika kedua elektrode itu dihubungkan dengan lampu maka lampu akan
menyala. Hal ini membuktikan adanya arus listrik yang mengalir pada lampu.
Ketika lampu menyala, larutan elektrolit akan bereaksi dengan seng. Adapun,
reaksi kimia pada batu baterai adalah sebagai berikut.
· Pada larutan elektrolit terjadi reaksi : Zn
+ 2NH 4Cl → Zn2+ + 2Cl + 2NH3 + H2
(ditangkap dispolarisasi)
· Pada dispolarisator terjadi reaksi : H2
+ 2MnO2 → Mn 2O3 + H 2O
Reaksi
kimia pada batu baterai akan menghasilkan gelembung-gelembung gas hidrogen (H2).
Gas hidrogen akan ditangkap dan bereaksi dengan dispolarisator yang berupa
mangan dioksida (MnO2) menghasilkan air (H 2O), sehingga
pada batu baterai tidak terjadi polarisasi gas hidrogen yang mengganggu
jalannya arus listrik. Bahan yang dapat menghilangkan polarisasi gas hydrogen disebut
dispolarisator. Adanya bahan dispolarisator pada batu baterai, menyebabkan
arus listrik yang mengalir lebih lama. Setiap batu baterai menghasilkan
tegangan 1,5 volt. Elemen kering (batu baterai) banyak dijual di toko karena
memiliki keunggulan antara lain tahan lama (awet), praktis karena bentuk sesuai
kebutuhan, dan tidak membasahi peralatan karena elektrolitnya berupa pasta (kering).
3. Akumulator
Akumulator sering disebut aki. Elektrode
akumulator baik anode dan katode terbuat dari timbal (Cu) berpori. Bagian utama
akumulator, yaitu
a. kutup positif (anode) terbuat dari timbal
dioksida (PbO2),
b. kutub negatif (katode) terbuat dari timbal
murni (Pb),
c. larutan elektrolit terbuat dari asam sulfat
(H 2SO4) dengan kepekatan 30%.
Lempeng
timbal dioksida dan timbal murni disusun saling bersisipan akan membentuk satu
pasang sel akumulator yang saling berdekatan dan dipisahkan oleh bahan penyekat
berupa isolator. Beda potensial yang dihasilkan setiap satu sel akumulator 2
volt. Dalam kehidupan sehari-hari, ada akumulator 12 volt yang digunakan untuk
menghidupkan starter mobil atau untuk menghidupkan lampu sein depan dan
belakang mobil. Akumulator 12 volt tersusun dari 6 pasang sel akumulator yang
disusun seri. Kemampuan akumulator dalam mengalirkan arus listrik disebut kapasitas
akumulator yang dinyatakan dengan satuan Ampere Hour (AH). Kapasitas
akumulator 50 AH artinya akumulator mampu mengalirkan arus listrik 1 ampere
yang dapat bertahan selama 50 jam tanpa pengisian kembali.
a. Proses Pengosongan Akumulator
Pada
saat akumulator digunakan, terjadi perubahan energi kimia menjadi energi
listrik dan terjadi perubahan anode, katode dan elektrolitnya. Pada anode
terjadi perubahan yaitu timbal dioksida (PbO2) menjadi timbal sulfat
(PbSO4). Perubahan yang terjadi pada katode adalah timbal murni (Pb)
menjadi timbal sulfat (PbSO4).
Adapun pada larutan elektrolit terjadi
perubahan, yaitu asam sulfat pekat menjadi encer, karena pada pengosongan
akumulator terbentuk air (H2O). Susunan akumulator adalah sebagai berikut.
a. Kutub positif (anode) terbuat dari timbal
dioksida (PbO2).
b. Kutub negatif (katode) terbuat dari timbal
murni (Pb).
c. Larutan elektrolit terbuat dari asam sulfat
(H 2SO4) dengan kepekatan 30%.
Ketika
akumulator digunakan, terjadi reaksi antara larutan elektrolit dengan timbal
dioksida dan timbal murni sehingga menghasilkan elektron dan air. Reaksi kimia
pada akumulator yang dikosongkan adalah sebagai berikut.
· Pada elektrolit : H 2SO4→2H+
+ SO4 2-
· Pada anode: PbO2 + 2H+
+ 2e + H 2SO4 →PbSO4+2H 2O
· Pada katode : Pb + SO42-→
PbSO4
Pada
saat akumulator digunakan, baik anode maupun katode perlahan-lahan akan berubah
menjadi timbal sulfat (PbSO4). Jika hal itu terjadi, maka kedua
kutubnya memiliki potensial sama dan arus listrik berhenti mengalir. Terbentuknya
air pada reaksi kimia menyebabkan kepekatan asam sulfat berkurang, sehingga
mengurangi massa jenisnya. Keadaan ini dikatakan akumulator kosong (habis).
b. Proses Pengisian Akumulator
Akumulator
termasuk elemen sekunder, sehingga setelah habis dapat diisi kembali. Pengisian
akumulator sering disebut penyetruman akumulator. Pada saat penyetruman
akumulator terjadi perubahan energi listrik menjadi energi kimia. Perubahan
yang terjadi pada anode, yaitu timbal sulfat (PbSO4) berubah menjadi
timbal dioksida (PbO2). Perubahan pada anode, yaitu timbal sulfat
(PbSO4) berubah menjadi timbal murni (Pb). Kepekatan asam sulfat
akan berubah dari encer menjadi pekat, karena ketika akumulator disetrum terjadi
penguapan air. Bagaimanakah cara menyetrum akumulator?
Untuk
menyetrum akumulator diperlukan sumber tegangan DC lain yang memiliki beda
potensial yang lebih besar. Misalnya akumulator 6 volt kosong harus disetrum
dengan sumber arus yang tegangannya lebih dari 6 volt. Kutub-kutub akumulator
dihubungkan dengan kutub sumber tegangan. Kutub positif sumber tegangan dihubungkan
dengan kutub positif akumulator. Adapun, kutub negative sumber tegangan
dihubungkan dengan kutub negatif akumulator. Rangkaian ini menyebabkan aliran
elektron sumber tegangan DC berlawanan dengan arah aliran elektron akumulator.
Elektron-elektron
pada akumulator dipaksa kembali ke electrode akumulator semula, sehingga dapat
membalik reaksi kimia pada kedua elektrodenya. Agar hasil penyetruman
akumulator lebih baik, maka arus yang digunakan untuk mengisi kecil dan waktu pengisian
lama. Besarnya arus listrik diatur dengan reostat. Pada saat pengisian terjadi
penguapan asam sulfat, sehingga menambah kepekatan asam sulfat dan permukaan
asam sulfat turun. Oleh sebab itu, perlu ditambah air akumulator kembali.
Susunan akumulator yang akan disetrum (diisi)
dalam keadaan masih kosong, yaitu
a. kutub positif (anode) terbuat dari timbal
dioksida (PbSO4),
b. kutub negatif (katode) terbuat dari timbal
murni (PbSO4),
c. larutan elektrolit terbuat dari asam sulfat
(H2SO4) encer.
Reaksi kimia saat akumulator diisi, yaitu
· pada elektrolit : H 2SO4→2H+
+ SO42-
· pada anode : PbSO4 + SO42-
+ 2H 2O→ PbO2 + 2H 2SO4
· pada katode: PbSO4 + 2H+→
Pb + H 2SO4
Jadi, saat penyetruman akumulator pada
prinsipnya mengubah anode dan katode yang berupa timbal sulfat (PbSO4) menjadi timbal
dioksida (PbO2) dan timbal murni (Pb).
LATIHAN
1. Apakah yang dimaksud sumber arus searah?
2. Apakah yang dimaksud kapasitas aki?
3. Apakah kelemahan elemen Volta?
4. Apakah perbedaan antara elemen primer dengan
elemen sekunder?
5. Perubahan energi apakah yang terjadi pada
saat aki
a. digunakan,
b. disetrum.
C. PENGUKURAN TEGANGAN LISTRIK
Kamu sudah mengetahui bahwa alat ukur lsitrik yang cukup
penting, selain amperemeter, adalah voltmeter. Amperemeter digunakan untuk
mengetahui kuat arus listrik dalam suatu rangkaian tertutup. Adapun, voltmeter
digunakan untuk
baterai atau beda potensial di dua titik suatu
rangkaian listrik.
Dalam suatu rangkaian, penggunaan voltmeter
secara paralel. Maksudnya, terminal positif voltmeter (berwarna merah)
dihubungkan dengan kutub positif batu baterai. Adapun kutub negative voltmeter
dihubungkan dengan kutub negatif batu baterai. Salah satu contoh penggunaan
voltmeter yaitu pada pengukuran gaya gerak listrik dan tegangan jepit suatu
rangkaian.
Untuk
lebih jelasnya, lakukan Kegiatan 9.1 secara berkelompok. Sebelumnya, bentuklah
satu kelompok yang terdiri 4 siswa; 2 laki-laki dan 2 perempuan.
KEGIATAN 9.1
Tujuan: 1. Mengukur ggl elemen.
2. Mengukur tegangan jepit.
Alat dan Bahan:
– Lampu 1,5 V
– Sakelar
– Baterai
– Voltmeter
Cara Kerja:
1. Rangkailah alat dan bahan yang tersedia
seperti gambar.
2. Ukurlah tegangan baterai sebelum sakelar
ditutup.
3. Tutuplah sakelar. Amatilah nyala lampu dan
angka yang ditunjukkan skala voltmeter.
4. Pasangkan lagi sebuah lampu secara seri
terhadap lampu pertama.
5. Tutuplah sakelar. Amatilah nyala kedua
lampu dan angka yang ditunjukkan skala voltmeter.
6. Catatlah hasil pengamatan kelompokmu pada
tabel di buku kerjamu.
7. Ulangilah cara kerja 1–5 dengan menambah
baterai secara seri.
Pertanyaan:
1. Lebih besar manakah antara gaya gerak
listrik baterai dengan tegangan jepitnya?
2. Bagaimanakah besar tegangan jepit untuk
menyalakan lampu yang berbeda?
3. Nyatakan kesimpulan kelompokmu di buku
kerjamu.
Perbedaan
antara besarnya GGL dengan tegangan jepit menimbulkan adanya kerugian tegangan.
Baterai atau sumber arus listrik lainnya memiliki hambatan dalam. Dalam suatu
rangkaian, hambatan dalam (r) selalu tersusun seri dengan hambatan luar
(R). Rumus Hukum Ohm dapat ditulis sebagai berikut.
V = IR
E = I(R +r)
Untuk beberapa elemen yang dipasang secara
seri berlaku
Etotal = E1 + E2 + ... + En =
nE
Rtotal = r1 + r2 + r3
= nr
Sehingga
Untuk beberapa elemen yang dipasang secara
paralel berlaku :
Sehingga,
Keberadaan hambatan dalam itulah yang
menyebabkan menyebabkan kerugian tegangan. Kerugian tegangan dilambangkan dengan
U satuannya volt. Hubungan antara GGL, tegangan jepit, dan kerugian
tegangan dirumuskan.
E = V + U dengan: E = gaya gerak listrik satuannya volt (V) ,V =
tegangan jepit satuannya volt (V) , U = kerugian tegangan satuannya volt
(V)
CONTOH
1. Dua baterai masing 1,5 V dengan hambatan dalam
0,5 Ω dihubungkan ke hambatan 14 Ω . Berapakah tegangan jepitnya jika kedua baterai
dipasang seri?
Penyelesaian:
Diketahui: E = 1,5 V, n = 2, r = 0,5 Ω ,R = 14
Ω
Ditanyakan: V = ... ?
Jawab:
I = nE/(R+ r/n) = 2 X 1,5(14 + 2.0,5) = 0,2 A
Sehingga besar tegangan jepitnya V = I ⋅ R = 0,2 A X 14 Ω = 2,8 volt
Jadi kerugian tegangan atau tegangan yang
hilang adalah
3 volt 2,8 volt 0,2 volt
E = V +U
V = E – U = 3 volt - 2,8 volt =0,2 volt
RANGKUMAN
1. Sumber arus listrik adalah alat yang
berfungsi sebagai tempat pengubah suatu energi menjadi energi listrik. Sumber
arus listrik searah contohnya elemen Volta, batu baterai, akumulator, dan sel
surya.
2. Elemen dibedakan menjadi dua, yaitu elemen
primer dan elemen sekunder. Elemen primer adalah elemen yang jika beda
potensialnya sama dengan nol (habis) tidak dapat diisi kembali. Misalnya,
elemen kering (batu baterai) dan elemen Volta. Elemen sekunder adalah elemen
yang dapat diisi kembali jika beda potensialnya sama dengan nol, misalnya aki.
3. Elemen kering, yaitu elemen Volta dan aki
yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi listrik.
4. Amperemeter yang digunakan untuk mengukur
kuat arus listrik dipasang seri.
5. Gaya gerak listrik adalah beda potensial
antara kutub-kutub sumber tegangan sebelum mengalirkan arus listrik.
6. Tegangan jepit adalah beda potensial antara
kutub-kutub sumber tegangan pada saat mengalirkan arus listrik.
7. Kerugian tegangan adalah besarnya tegangan
yang hilang akibat adanya hambatan dalam.
8. Untuk beberapa elemen yang dipasang seri
akan menghasilkan kuat arus Sebesar = I = nE/(R+ nr)
9. Untuk beberapa elemen yang dipasang paralel
akan menghasilkan kuat arus sebesar= I = E/(R+r/n)
REFLEKSI
Apabila kamu sudah membaca isi bab ini dengan
baik, seharusnya kamu sudah dapat mengerti tentang hal-hal berikut.
1. Gaya gerak listrik.
2. Sumber arus listrik.
3. Tegangan jepit.
Apabila masih ada materi yang belum kamu
pahami, tanyakan pada gurumu. Setelah paham, maka pelajarilah bab selanjutnya.
BAB IV.
Energi dan Daya Listrik
Pada
siang hari, setelah pulang sekolah Ari duduk-duduk di teras depan rumahnya.
Sesekali ia melihat ke arah jalan, seolah-olah ada yang ia tunggu. Ternyata
tidak lama lagi Andi adiknya yang tengah berjalan bersama ibunya menuju rumah, setelah sampai di depan
kakaknya, Andi memencet tombol mobil-mobilan yang baru saja ia beli di toko.
Mobil-mobilan itu dapat berjalan. Andi berpikir kenapa mobil-mobilan itu dapat
berjalan sendiri. Karena rasa ingin tahu Andi mengambil mobil-mobilan itu dan
ia buka bagian bawahnya. Andi mendapat dua baterai kecil di dalam mobil-mobilan
itu. Kemudian Andi bertanya kepada Ari, Kak . . . . Kenapa mobil-mobilan ini
dapat berjalan? Ari tidak menjawab, hanya senyum saja yang ia lontarkan. Maka
Andi mencoba lagi dengan melepas kedua baterai, ternyata mobil tersebut tidak
mau berjalan. Oleh karena itu, Andi hanya berpikir bahwa kedua baterai itu yang
menyebabkan mobil bisa berjalan. Mengapa mobil-mobilan yang di dalamnya diberi
baterai itu dapat berjalan?
Untuk menjawab pertanyaan di atas mari kita pelajari bab
berikut.
Listrik
merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua
peralatan rumah tangga saat ini menggunakan energi listrik. Energi listrik
diperoleh dari hasil pengubahan berbagai bentuk energi lain. Fenomena energi
listrik dan pemanfaatannya akan kamu pelajari pada bab ini. Pada bab ini kamu
akan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan energi dan daya listrik serta
pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
A. Energi Listrik
1. Pengertian Energi Listrik
Energi atau tenaga adalah kemampuan suatu benda untuk melakukan usaha atau kerja.
Menurut hukum kekekalan energi, energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat
dimusnahkan. Ini berarti bahwa energi hanya dapat diubah dari satu bentuk
energi ke bentuk energi yang lain. Sedangkan,
Energi listrik merupakan aliran elektron yang bergerak dari potensial rendah ke potensial
tinggi (lebih positif). Sewaktu bergerak, elektron- elektron itu saling
berinteraksi dalam atom-atom konduktor. Jika getaran energi yang dipindahkan ke
atom-atom itu bertambah, maka sejumlah energi magnetik dari elektron diubah
menjadi energi panas, sehingga temperatur pada konduktor meningkat. Jika wujud
konduktor tidak melebur, maka dengan cepat konduktor tersebut akan menyebarkan
panas ke seluruh bagian konduktor secara merata.
Energi
listrik berbanding lurus dengan tegangan listrik. Maksudnya semakin besar tegangan listrik, semakin besar pula
energi listrik yang dihasilkan. Sebaliknya semakin kecil tegangan listrik,
semakin kecil pula energi listrik yang dihasilkan.
Energi listrik
berbanding lurus dengan kuat arus listrik. Maksudnya semakin besar kuat arus, semakin
besar pula energi listrik yang dihasilkan. Sebaliknya semakin kecil kuat arus
listrik, semakin kecil pula energi listrik yang dihasilkan.
Energi
listrik berbanding lurus dengan waktu selama arus listrik mengalir.
Maksudnya semakin lama arus listrik mengalir, semakin besar pula energi listrik
yang dihasilkan.
Energi
listrik berbanding lurus dengan tegangan listrik, kuat arus dan waktu. Secara
matematis, besar energi listrik dirumuskan: W = V.I.t dengan : W =
energi listrik (joule), V = tegangan listrik (volt), I = kuat arus (ampere), t
= waktu (sekon)
Berdasarkan hukum Ohm, V = I.R,
besar energi listrik juga dapat ditulis :
dengan, W = energi listrik (joule), I =
kuat arus listrik (ampere), R = hambatan listrik (ohm), t = waktu (sekon), V =
tegangan listrik (volt).
Contoh soal:
1. Sebuah loudspeaker 8 ohm dipasang pada
tegangan 6 volt selama 4 detik. Berapakah energi listrik yang diserap
loudspeaker tersebut?
Penyelesaian:
D1 : R = 8 ohm, V = 6 volt,
t = 4 sekon
D2 : W = V. I. T
2. Sebuah alat
pemanas listrik bertegangan 220 volt dan padanya mengalir arus listrik 2 ampere. Jika
alat pemanas tersebut dipakai selama 2 jam, berapa energi yang ditimbulkan oleh
alat tersebut?
Penyelesaian:
Diketahui:
V = 220
volt
I =
2 A
t =
2 jam
= 2 × 3600 sekon
= 7200 sekon
Ditanya: W = . .
. . joule?
Jawab :
W= V I t
= 220 volt x 2 A x 7200 s
= 3168000 joule = 3168 ×
103 joule
= 3,168 × 106
joule
3. Pada sebuah
penghantar 25 ohm, mengalir arus 0,2A. Bila aliran arus listrik ini berjalan
selama 90 menit. Berapakah energi yang ditimbulkan?
Penyelesaian:
Diketahui:
R =
25 ohm
I =
0,2 A
t =
90 menit
= 90 × 60 sekon
= 5400 sekon
Ditanya : W = . .
. . joule?
Jawab :
W = I2 R t
= (0,2 A)2 × 25 ohm × 5400
s
= 0,04 A × 25 ohm
x 5400 s
= 5400 joule = 5,4 × 103 joule
B. Daya Listrik
Sebuah
penghantar yang diberi beda potensial V,kuat arus I, dalam waktu t,
berdasarkan persamaan ketiga variabel tersebut merupakan bagian dari konsep
usaha atau energi listrik. Usaha
yang dilakukan dalam satuan waktu disebut daya, P. Oleh karena
itu, persamaan daya listrik dapat ditulis sebagai,
P = W/t =V.I
Secara matematis energi listrik dirumuskan :
daya
listrik (watt), V = tegangan listrik (volt), I = kuat arus listrik (ampere)
Jika dihubungkan dengan
hukum Ohm V = I.R, persamaan daya listrik juga dapat dirumuskan :
Besar
daya listrik ditentukan oleh tegangan listrik dan kuat arus listrik yang
mengalir. Pada alat-alat listrik, biasanya tertulis besar tegangan listrik dan
besar daya listrik.
Daya listrik
merupakan bagian dari besarnya beda potensial, kuat arus, hambatan dan waktu.
Satuan daya adalah joule/sekon atau volt × ampere atau
lebih umum disebut watt,
karena watt merupakan satuan Sistem Internasional.
Joule merupakan satuan Sistem
Internasional energi listrik, tetapi dalam kehidupan sehari-hari energi listrik
biasa dinyatakan dalam satuan kWh (kilowatt-hour) atau kilowatt-jam, dan
dapat ditulis
W = P. t
Persamaan
di atas adalah energi listrik yang dinyatakan dalam satuan watt sekon.
Bagaimana kalau dinyatakan kilowatt-jam, maka yang perlu diperhatikan adalah, 1
kilowatt = 1000 watt dengan t selama 1 jam = 3600 sekon. 1 joule = watt
sekon, sehingga,
1 joule = 103 watt
.3600 sekon
atau
1 Wh = 3,6 × 106 joule
1 kWh = 3,6 x 103 joule
Harga
langganan listrik didasarkan pada banyak energi listrik yang digunakan oleh
pelanggan listrik tersebut. Alat ukur untuk menentukan besarnya energi listrik
yang digunakan disebut kWhmeter. Alat ini biasanya dipasang di
rumah-rumah atau bangunan yang memanfaatkan energi listrik.
Misalnya:
Sebuah lampu pijar bertuliskan 220 V, 25 W.
Artinya lampu tersebut akan mempunyai daya 25 W jika tegangannya sebesar
220 V. Jika tegangan lampu tersebut kurang dari 220 V, maka lampu akan menyala
redup karena dayanya berkurang.
Sebaliknya, jika tegangan lebih dari
220 V, lampu akan menyala terang sekali dan filamennya akan cepat putus karena
dayanya melebihi batas.
Konsep energi dan daya listrik
diterapkan pada penarikan rekening sewa listrik. Rekening listrik berdasarkan
energi yang terpakai selama satu bulan. Satuan yang digunakan adalah kilowatt
jam (kWh).
Secara
matematis harga sewa rekening listrik dirumuskan :
Sewa =
energi yang terpakai sebulan x harga tiap kWh
Contoh
soal :
1. Pada sebuah lampu pijar bertuliskan
220 V/100 W. Jika lampu dipasang pada beda tegangan 220 volt selama sepuluh
sekon. Tentukan energi listrik yang digunakan oleh lampu!
Penyelesaian:
Diketahui : V = 220 V
sesuai dengan yang tertulis pada lampu
P =
100 W
t = 10 sekon
Ditanya : W = . . . . ?
Jawab : W = P t
= 100 W × 10 s
= 1000 joule
2. Sebuah keluarga berlangganan listrik PLN.
Pada rumah tersebut terdapat 2 lampu tabung (TL) 20 watt yang menyala 5 jam
tiap hari, 5 buah lampu pijar 25 watt yang menyala 6 jam tiap hari, sebuah
setrika listrik 250 watt yang menyala 2 jam tiap hari, sebuah televisi berwarna
200 watt yang menyala 10 jam tiap hari, dan kipas angin 10 watt yang menyala 4
jam tiap hari. Apabila harga rekening listrik setiap kWh sebesar Rp 250,00 dan
biaya beban tetap Rp 3.500,00 setiap bulan, berapa biaya rekening listrik yang
harus dibayar oleh keluarga tersebut dalam 1 bulan?
Penyelesaian
:
Pemakaian
energi listrik PLN oleh alat-alat sebagai berikut :
Lampu
tabung : 2 x 20 W x 5 jam x 30 =
6.000 Wh = 6 kWh
Lampu
pijar : 5 x 25 W x 6 jam x 30 = 22.500 Wh
= 22,5 kWh
Seterika : 1 x 250 W x 2 jam x 30 = 15.000 Wh = 15
kWh
Televisi : 1 x 200 W x 10 jam x 30 = 60.000 Wh =
60 kWh
Kipas
angin : 1 x 10 x 4 jam x 30 = 1200 Wh =
1,2 kWh
Harga
langganan per kWh Rp 250,00
Biaya
beban tetap per bulan Rp 3.500,00
Jumlah
energi yang dibutuhkan :
= 6 kWh
+ 22,5 kWh + 15 kWh + 60 kWh + 1,2 kWh =
= 104,7
kWh
Rekening
yang harus dibayar :
= Rp
3.500,00 + (104,7 x Rp 250,00)
= Rp
3.500,00 + Rp 26.175,00
= Rp
29.675,00
C.
Perubahan Energi Listrik
Perubahan bentuk energi listrik
selalu memenuhi hukum kekekalan energi. Hukum tersebut berbunyi energi tidak dapat diciptakan dan
tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya dapat berubah dari bentuk energi satu ke bentuk energi yang lain.
1. Perubahan Energi Listrik
Menjadi Energi Cahaya
Ambilah
sebuah lampu pijar, dan coba perhatikan. Ternyata pada lampu tertulis 20 W/220 V. Kemudian hubungkan dengan stop kontak listrik
PLN. Apa yang terjadi? Ternyata, lampu menyala. Perubahan bentuk energi apakah yang terjadi pada lampu pijar?
Lampu pijar dan
lampu neon merupakan alat listrik yang dapat mengubah energi
listrik menjadi energi cahaya dan energi kalor. Di dalam ruang kaca lampu pijar, terdapat filamen yang mudah
terbakar yang terbuat dari
kawat wolfram halus yang dibuat spiral. Di dalam bola kaca diisi gas argon dan nitrogen bertekanan rendah yang berguna untuk
menyerap energi kalor dari filamen yang berpijar, sehingga filamen tidak cepat putus. Ketika arus listrik
mengalir, filamen berpijar sampai suhu 1.000 0C menghasilkan
cahaya dan kalor. Lampu ini apabila digunakan terasa panas karena banyak energi listrik
yang berubah menjadi energi kalor, sehingga lampu tidak hemat listrik.
Lampu tabung (TL)
sering disebut lampu neon. Lampu ini terbuat dari tabung kaca yang bentuknya bermacam-macam. Di dalam tabung kaca
diisi gas raksa dan pada kedua ujungnya terdapat elektrode. Jika kedua elektrode dihubungkan dengan tegangan
tinggi menyebabkan
terjadinya loncatan elektron yang menimbulkan api listrik. Loncatan elektron ini dapat menyebabkan gas raksa
memancarkan sinar ultraviolet yang tidak tampak oleh mata. Agar sinar yang dihasilkan
dapat dilihat, dinding tabung kaca bagian dalam dilapisi zat fluoresensi. Dinding kaca berlapis zat itu akan
memendarkan cahaya ketika terkena sinar ultraviolet. Cahaya yang dipancarkan berupa cahaya
putih dan tidak panas. Dibandingkan
lampu pijar, lampu TL memiliki kelebihan. Pada lampu TL lebih banyak energi listrik yang berubah menjadi energi cahaya. Lampu ini
hemat listrik karena kalor yang ditimbulkan kecil dan tidak terlalu panas ruang di sekitarnya. Sekarang ini, lampu
jenis TL dibuat dalam
berbagai bentuk dan memiliki keunggulan hemat energi.
2. Perubahan Energi Listrik
Menjadi Energi Kalor
Ambilah sebuah
setrika listrik atau solder dan hubungkan dengan stop kontak listrik PLN dan tunggu beberapa saat. Mengapa dasar setrika
terasa panas? Dari manakah asalnya panas? Perubahan bentuk energi
apakah yang terjadi pada setrika?
Setrika listrik
dan solder merupakan alat yang dapat merubah energi listrik menjadi energi kalor (panas). Bagian dalam setrika listrik terdapat
elemen pemanas yang terbuat dari bahan konduktor yang hambatan jenisnya besar. Elemen pemanas diletakkan di
antara alas berupa besi
dengan penutup setrika yang dipisahkan bahan isolator. Ketika dialiri arus listrik, elemen tersebut akan
menghasilkan
energi kalor dan suhunya naik.
Energi kalor yang dihasilkan dihantarkan ke lapisan besi, sehingga lapisan besi
ikut panas.
Solder
listrik merupakan alat untuk memasang komponen elektronika pada papan rangkai. Bagian dalam solder listrik
berisi elemen pemanas
yang terbuat dari bahan konduktor yang hambatan jenisnya besar. Elemen pemanas diletakkan di dalam selubung solder. Ketika
dialiri arus listrik, elemen tersebut akan menghasilkan energi kalor dan
suhunya naik. Energi kalor yang dihasilkan dihantarkan ke mata solder.
Logam mata solder memiliki titik lebur yang lebih tinggi daripada titik lebur timah solder. Suhu solder yang
terlalu tinggi akan
merusak komponen solder.
D. Penghematan Energi Listrik
Sumber energi ada
yang dapat diperbarui dan ada pula yang tidak dapat diperbarui. Sebagian besar sumber energi yang kita gunakan di rumah
dan untuk angkutan merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbarui. Akibatnya pada suatu saat akan
terjadi krisis energi.
Karena jumlah permintaan energi melebihi batas energi yang tersedia di
bumi, maka para ahli menunjukkan bahwa minyak
bumi dan batu bara di dunia ini
akan habis dalam kurun waktu tertentu.
Walaupun energi listrik yang
disediakan PLN cukup besar namun belum mencukupi kebutuhan listrik secara
nasional. Karena masih terdapat daerah di tanah air ini yang belum mendapat
suplai listrik. Pemerintah terus mengembangkan penyediaan energi listrik guna
pemerataan penggunaan listrik untuk meningkatkan perkembangan industri di
seluruh tanah air.
Sumber energi yang terbatas dan
banyaknya permintaan listrik di tanah air mendorong kita untuk menghemat energi
di antaranya penghematan energi listrik. Pemanfaatan energi listrik secara
efektif perlu digalakkan pada seluruh pengguna energi listrik. Jatah daya
listrik yang diberikan PLN perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Berikut
ini beberapa usaha penghematan energi listrik.
•
Mematikan saklar alat listrik yang tidak digunakan.
•
Menyalakan lampu setelah gelap.
• Menggganti
lampu pijar dengan lampu TL.
•
Memilih alat-alat listrik yang berdaya rendah.
•
Membuat ruangan berjendela.
•
Mencari sumber-sumber energi alternatif yang dapat diperbarui.
•
Menemukan alat-alat baru yang menggunakan tenaga surya.


























Tidak ada komentar:
Posting Komentar